PERJUANGAN MENGGENJOT EKSPOR DI TENGAH KRISIS GLOBAL

PERJUANGAN MENGGENJOT EKSPOR DI TENGAH KRISIS GLOBAL

Krisis finansial di AS dan Eropa membuat pasar ekspor Indonesia ke kawasan tersebut menciut. Namun, ada sejumlah perusahaan yang masih mampu meningkatkan ekspornya di tengah situasi krisis global itu. Kuncinya, menawarkan produkyang dibutuhkan pasar dan mengalihkan ekspor ke negara-negarayang ekonominya tumbuh tinggi.

Kusnan M. Djawahir

REPORTASE: DENOAN RINALDI, HERNING BANIRESTU, RADITA A. WICAKSONO, SIGIT A. NUGROHO, & SITI RUSLINA RISET: SITI SUMARIYATI

pakaian untuk sehari-hari di rumah bermotif batik ke Timur Tengah itu justru membukukan peningkatan ekspor yang signifikan. Tahun 2011, Hadiputra baru mencatatkan nilai ekspor US$ 12 juta, tetapi selama Januari-September 2012 ekspornya sudah menembus angka US$ 17 juta.gajah_tunggal

Imbas krisis keuangan di Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa, tak pelak lagi, menghambat laju kinerja ekspor Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, sepanjang Januari Agustus 2012, ekspor Indonesia tercatat US$ 127,17 milar. Angka tersebut lebih rendah 5% dibandingkan dengan pencapaian dalam kurun waktu yang sama tahun 2011. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya, pencapaian ekspor Indonesia tumbuh sangat signifikan. Tahun lalu, ekspor Indonesia tercatat US$ 203,50 miliar, naik 29% dibandingkan dengan angka ekspor 2010. Sementara, di 2010 tumbuh 35,4% clibandingkan tahun sebelumnya, dari US$ 116,51 miliar menjadi US$ 157,78 miliar.

Melihat tren tersebut, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Gusmardi Bustami hanya berani memasang target, pencapaian ekspor tahun ini setidaknya sama dengan tahun lalu. Artinya, tumbuh 0% pun sudah terhitung bagus mengingat kondisi global yang kurang mendukung untuk pasar ekspor Indonesia. Negeri ini sebenarnya terus mengalami perbaikan ekspor secara keseluruhan. Ini terlihat dari kenaikan peringkat ekspor Indonesia, yang tahun 2010 berada di peringkat 30, kemudian naik ke posisi 27 di tahun 2011. Dan, selama tiga tahun terakhir, pasar Cina telah berhasil menggantikan posisi Jepang dan AS sebagai penyerap terbesar produk ekspor dari Indonesia.

Menurut Gusmardi, dengan kondisikrisis tersebut, mungkin orang tidak membeli peralatan canggih, seperti produk elektronik dan gadget. Namun, untuk barang-barang seperti pakaian atau produk primer lainnya, mereka tetap membutuhkannya. “Barang-barang primer seperti itu yang menjadi pasar kita. 65% pasar kita merupakan produk-produk primer. Jadi, walaupun ada pengaruh dari krisis ekonomi di Amerika dan Eropa, sebenarnya masih ada peluang yang cukup besar bagi kita untuk mengembangkan pasar ekspor yang dimiliki,” tuturnya.

Akan tetapi, bagaimanapun, penurunan tersebut tetaplah harus jadi perhatian kita dengan menyikapi dan mengelola keseimbangan antara impor dan ekspor saat ini. Maklum, kenaikan ekspor Indonesia juga diiringi dengan kenaikan impor. Bahkan, tahun 2010 dan 2012 kenaikan impornya lebih tinggi. Begitu pun dengan periode Januari-Agustus 2012, angka ekspor turun, sedangkan nilai impor justru masih naik sekitar 10%. Jadi, ini memang harus diwaspadai, jangan sampai devisa yang diperoleh dari ekspor terkuras oleh kegiatan impor yang dilakukan perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Sesungguhnya, tak hanya Hadiputra yang masih menikmati pertumbuhan ekspor. Ada banyak perusahaan lain yang mampu menggenjot ekspornya di tengah badai krisis di AS dan Eropa. Di antaranya, PT Dragon Prima Farma, produsen obat-obatan. Menurut Anton Handoyo, Direktur Operasional perusahaan ini, tahun 2012 penjualan ekspornya meningkat pesat. Tahun 2011 memang sempat rnenurun akibat adanya gejolak politik di Timur Tengah. Namun, penjualan selama Januari-September 2012 sudah melebihi pendapatan ekspor selama 2010. Sebagai catatan, ekspor Dragon Prima pada 2010 sebesar US$ 4,02 juta, sedangkan tahun 2011 hanya US$ 3,09 juta. Negara yang berkontribusi besar terhadap pendapatan ekspor perusahaan ini adalah Yaman, Dakkar, Abijan, Arab Saudi dan Dikotono. Ekspor Dragon Prima selama ini memang fokus ke Afrika dan Timur Tengah. Negara-negara di Asia, seperti Hong Kong, Cina, Kamboja, Brunei Darussalam dan Malaysia, menurut Anton, sebenarnya sudah ditembus, tetapi jumlahnya masih sangat kecil.

Bahkan, Dragon Prima juga sudah menjual produk dengan merek sendiri di luar negeri, di antaranya merek Dragon, Double Dragon dan Java. Namun, khusus di Timur Tengah, pihaknya tidak bisa menggunakan merek Dragon karena sudah ada produkyang diregistrasi dengan merek sama. Maka, digunakanlah merek Java. Perusahaan ini pun sudah melakukan promosi dengan beriklan di radio (Zarnan), dan di Kamboja beriklan di TV melalui sharing dengan mitranya (buyer).

PT Gajah Tunggal, produsesn ban GT Radial, pun terlihat makin perkasa di luar negeri. Malah, menu-rut Chatarina Widjaja, Direktur PT Gajah Tunggal, di beberapa negara pangsa pasar GT mencapai dua digit, seperti Filipina yang lebih dari 10%, Srilanka dan Me-sir (20% lebih). Memang, di Amerika dan Eropa pangsa pasar GT masih dalam hitungan jari. Namun, ketika krisis melanda Eropa, ekspor Gajah Tunggal tidak terpengaruh. “Demand justru meningkat di Amerika,

54 I SWA22 I XXVIII I 18-280KTOBER 2012

Comments are closed.